Tujuan dari semua ini {Part 1}
Ada
1 pertanyaan yang sering bersarang dalam benakku. Pertanyaan itu selalu
kutanyakan pada diriku sendiri.
“Kenapa Aku Berbeda ?”
--18tahun
lalu seorang ibu melahirkanku dengan fisik sempurna. Tubuhku kecil dan lemah,
ketika itu ibu membantuku bertahan hidup. Semua Dimulai dari Nol, mataku mulai melihat, otakku berfikir, mulutku berbicara
dan seluruh ragaku berfungsi seperti seharusnya. Dan Aku hanya bisa bilang Trimakasih
untuk semua Pengorbanan IBUku.
Seiring
waktu karakterku terbentuk dengan sendirinya. lewat Kesalahan aku belajar cara
memperbaiki, lewat pengalaman aku belajar hal baru, dan lewat perasaan aku belajar
memahami cinta dan membenci sesuatu. Masa kecilku indah sampai terasa begitu
singkat, seakan masa itu tak pernah kujejaki. Tapi berbanding terbalik ketika
aku berjalan di fase remaja. Masa paling Memuakkan karna tak satupun yang
peduli pada perasaanku saat itu. Ketika ramaja, aku tak punya teman.
Entah-karna-apa ? aku aneh katanya.
Ketika
itu semua berjalan buruk. Aku ingat ketika seorang guru menghina profesi orang
tuaku, karna aku tak bisa mengerjakan Soal Matematika. Aku ingat tak ada yang
mau kuajak ke kantin karna mereka malu punya teman sepertiku. Aku juga ingat
satu satunya teman ku dikelas ketika itu adalah ‘Rasa takut. Ya, aku ingat
semua itu, aku bahkan malu harus menceritakannya, tapi itu pernah terjadi. Saat
semua remaja merasakan cinta Monyet. Saling caper pada lawan jenisnya. ‘Apa
?, aku bahkan tak pernah tau bagaimana
rasanya disukai oleh seseorang. Aku kasihan pada diriku sendiri, rasanya
terlalu kosong. Untuk apa perasaan ini ada jika tak bisa kupersembahkan pada
siapapun.
“Aku
akan berkenalan dengannya ?, aku akan jadi teman yang baik untuknya, takkan
kubiarkan dia kecewa, karna dia satu satunya…”
JefriAdi
namanya. Dia cowok populer di sekolah, dia ketua kelas, ketua osis juga. jika
satu hari tidak hadir, itu cukup membuat patah hati banyak siswi. Biar begitu,
dimataku jefri punya satu perbedaan dibanding ‘mereka’. ‘Dia’ mau berteman
denganku, dia tak pernah pilih2 teman. aku senang setidaknya dia mau berbicara
pada seorang murid aneh. dia seperti aku yang tidak suka matematika dan tidak
mahir dalam pelajaran olahraga. setiap hari dia duduk disamping mejaku. Aku bisa
selalu memandanginya jika kesepian. Tapi aku akan memalingkan jika dia balik
memandangku. Huh terlalu klise saat itu. Mungkin dia Cinta monyetku. Ah, tapi
tidak.cewek sepertiku tak bisa bersamanya, aku cukup sadar diri.
Di
hari Valentine, aku orang pertama yang ngasih dia Coklat sebelum murid cewek
lainnya memberinya hadiah yang sama. Dia ngucapin makasih tapi aku tau sesuatu
hari ini, ternyata Jefri sudah jadian dengan teman kelasku namanya Jayani. Ya,
aku tidak kaget, selama ini mereka dekat, mereka cukup serasi dan aku ikut
bahagia denger kabar itu.
Seperti
kisah cinta tragis lainnya, semuanya berakhir perpisahan. Aku masih ingat dia
sampai hari ini, dan dari dia aku belajar merelakan orang yang kita sayang
untuk berbahagia dengan orang yang dia sayang. Ya, kuharap jefri bahagia sampai
hari ini.
To
be continue… ..
#Chery