Entri Populer

Kamis, 03 November 2011

nyoret san san

 


Perubahan yang terjadi dalam dirinya memang gak stabil, selalu naik turun.
Kadang terlihat begitu sempurna, dan kadang seperti orang rendahan.

Membaca biografi hidupnya, adalah sebuah inspirasi.
Namanya yang diubah sejak SMA, seiring ketenarannya membuat orang semakin mudah mengingatnya.
Nama itu juga membuatnya semakin imut.

Sabtu, 29 Oktober 2011

Cuma Main-main

 Perasaan itu indah banget, tapii...

Meskipun selalu dekat, belum tentu tulus.
meskipun selalu bersama, tak ada jaminan kesetiaan

Walau saling mengungkapkan perasaan, bukan berarti dari hati yang sesungguhnya..
bahkan kontak fisik yang ada, hanya sekedar saja..

Belum memiliki apa adanya..

Selayaknya tom and jerry..
meskipun selalu bersama..

Antara aku dan kamu,
hanya main-main saja..



Jumat, 09 September 2011

Harga Diri

Yang kumaksud harga diri bukan soal nominal angka “berapa harganya ? diri itu sendiri”

Tapi masalah manusia itu masih memakai pikiran atau perasaan dalam mengendalikan segala sesuatu.

Kita ini adalah manusia, Makhluk paling sempurna. Tercipta oleh perasaan dan tumbuh dengan pemikiran.

Tidak sesimpel logika, yang selalu bisa dijabarkan dengan abjad A sampai Z.
Secara Harfiah, keberadaan manusia itu sendiri mengandung Makna dan Arti. Bukan sembarangan diciptakan hanya untuk memenuhi pantat bumi saja.

Harga diri seseorang tidak patut dinilai dan dibayar dengan harga. Karna manusia yang berharga itu sendiri takkan mau harga dirinya dibayar dengan harta sebesar apapun.

Ketahuilah, tidak ada manusia yang terlahir berdosa. Manusia yang terlahir dengan pikiran kotor dan picik itu tidak ada. Semuanya terlahir suci, bersih seperti selembar kertas kosong.

Yang membuat manusia itu kotor, adalah Lingkungannya. Keluarga, pertemanan dan masyarakat yang akhirnya membentuk karakter dan sifat seseorang itu sendiri.

Saat sudah dewasa kelak, bayi yang suci itu akan menjadi apapun yang diciptakan oleh lingkungannya. Bisa menjadi monster, atau malaikat.

Banyak yang bilang laki-laki berfikir lebih banyak daripada berperasaan. Dan para wanita lebih banyak berperasaan daripada memakai logika.

Mungkin hal ini memang benar, tapi bagiku tergantung juga orangnya.

Itulah sebabnya mengapa wanita lebih sedikit mengerti namun banyak memahami.

Sedangkan laki-laki lebih banyak yang bersikap pasti dan optimis. Karna para lelaki lebih banyak mengerti, namun sedikit memahami.

 

by "Me

 

 

 



Minggu, 05 Juni 2011

cerita ajj..PWG

Baru aja kemarin malam nulis tentang peeweegaskin dan wadauu..



Pagi-pagi baru melek, nonton Dahsyat Rcti, bintang Tamunya Pee Wee Gaskins.

Kok bisa ya, mungkinkah ini pertanda. Hehe

Kak san san makin gendut, dia nyanyi dan dia chaby. Udah lama gak liat PeeWeeGaskins ngeLive. Kak omo pakai baju lengan panjang, membuatku gk bisa melihat lengannya yang putiih. Huhu

Kak dochi juga hari ini beda, enggak pakai kacamata ciri khasnya. Apakah karna APWG sering ngeledek itu Kacamata kuda ya.

Mereka bawain 2 lagu, “Di Balik Hari Esok” dan “Indonesia”, udah. Acaranya di dahsyat lancar, luncur tanpa gangguan dari APWG, mungkin mereka lagi liburan kayak saya.

Aku berencana mau ke warnet pasar 5, udah nyuci dan nyetrika baju banyak banget, tapi gagal.
Gatau entah kenapa si Agus, cowok kak vera itu tiba-tiba datang. Buat suasana enggak enak. Entah apa tujuannya datang.. anj...

--

Berhubung besok ujian kenaikan kelas, mending aku persiapkan aja –minimal buka buku-. Meskipun gak terlalu matang persiapan untuk besok. Semoga mudah-mudahan dapat dijalani dengan lancar. Amin

 

Minggu, 22 Mei 2011

Dari SD, Until Now (PART 2)

 Di sekolah yang baru, aku masuk ke Madrasah, sama dengan SD, tapi berbasis swasta yang notabene di khususkan untuk anak-anak beragama Islam.

Dimadrasah ini aku dipertemukan dengan teman-teman yang jauh lebih baik dan humble.

Tapi pembuliyan tak berhenti sampai disini. Memang teman sekelas tidak ada yang sejahat teman sekelas di Negri.

Tapi pembuliyan aku dapat dari pertemanan di luar sekolah.
Di sana aku yang polos dan masih sangat murni diejek secara fisik oleh anak-anak lain, yang merasa diri mereka paling sempurna.

Pembuliyan yang cukup menjatuhkan mental.
Meskipun tidak disakiti secara fisik, tapi secara mental, aku ciut dan Down.

Hal itu terbawa sampai aku masuk ke sekolah SMA. Aku menjadi pribadi yang pemalu dan tetap merasa gagal dalam sosialisasi dengan orang-orang.

 


Sabtu, 21 Mei 2011

Dari SD, until Now

Nama Lengkapku Cukup panjang “Alfitrah Isnaini Ceria”. Kalau di daftar absen sekolah, biasanya bisa dihitung jari ada berapa murid yang namanya memiliki beberapa suku kata.

Dan hal ini membuatku memiliki kesulitan tesendiri, khususnya saat menghadapi ujian. Karena harus mengisi dan membulatkan nama di lembar ujian (yang itu cukup memakan waktu). Di saat teman yang lain sudah mulai mengisi lembar jawaban, saya masih berada di atas kolom nama untuk mengisi abjad dan membulat bulatkannya.

Tapi yaa.. Apa boleh buat.

Nama yang panjang ini adalah sebuah Doa yang disematkan oleh kedua orang tuaku. Dan itu semua diluar kendaliku.

Yang bisa kulakukan sekarang adalah mensyukuri nama  yang indah ini. Karena mungkin saja di masa depan, nama ini akan menjadi seorang pengusaha sukses. Amin.



Di bully waktu SD

Waktu SD,aku sempat merasakan pindah sekolah, yang awalnya sekolah di SD Negeri Impress Medan, Pindah ke Madrasah Swasta LKMD Jatikesuma.

Di SD Negri yang notabene adalah sekolah umum, dimana bercampur segala macam Ras, Suku dan Agama, di sini aku tumbuh menjadi anak yang kurang pergaulan, pendiem, pemalu, dan gak punya banyak teman.

Beberapa ‘anak istimewa’ di kelas melakukan pembullyan, dan aku adalah salah satu korbannya saat itu.

Di kelas 5 sd, setelah ujian tengah semester, aku yang saat itu memiliki hati yang sangat polos dan lembut. Akhirnya ditakdirkan oleh Allah, untuk meninggalkan sekolah Negri yang banyak memberikan tekanan pada psikisku saat itu.

Aku yang saat itu lebih milih ngumpet di WC, daripada harus pulang bareng temen ‘yang dianggap punya kuasa’. Aku yang merasa gagal bersosialisasi hanya karena lemah di pelajaran matematika.

Yang awalnya merasa seneng  main di pojokan sendirian, lama-lama malah menganggap kalau punya teman itu sama sekali tidak penting.

Terkhusus buat seorang anak cewek bernama putri, yang entah kenapa sudah bersikap sombong sejak masih kecil.

Selama di sekolah Negri, putri selalu menindas  murid lain yang dianggap lebih lemah darinya. Di balik parasnya yang cantik, dia adalah anak yang jahat. Mengejek, memerintah dan sok berkuasa kalau di kelas lagi gak ada guru.

Mungkin karena Allah ingin melindungiku dari sosok puri zionis, akhirnya aku pindah sekolah –bersamaan dengan ibuku yang dipindahtugaskan- ke sekolah yang baru.