Entri Populer

Senin, 03 Juni 2019

Bentar Lagi Raya, jadi kita pisah saja


Aku sedang capek.
Dan juga malas lihat wajahmu.
Kamu terlalu kepedean dengan penampilanmu.
Padahal gembel, Brandalan, Bauk, dan Semrawut.

Sebagai laki-laki pasti kamu mengharapkan wanita yang cantik dan terawat.
Dan berhubung aku kurang terawat, sampai kamu protes sana sini.
 Berarti semakin lama semakin tinggi tuntutanmu kan.
Fix, carilah yang lebih sempurna fisiknya. Diluar sana banyak kok. Silahkan.

Sering aku merasa kecewa padamu.
Atas ejekanmu, hinaan dan protesmu. Padahal inilah aku yang kamu kenal, sesulit itukah menerima kekurangan kekasihmu.
Belum jadi suami saja sudah seperti itu, padahal yang menghidupi aku juga bukan kamu.
Tapi sifatmu sudah sok begitu. Bagaimana pula nanti jika kita menikah, mungkin kamu akan mengurungku dirumah terus dan tidak boleh bersosialisasi sendirian.

Kalau memang kamu mau kerja giat, ya sudah kerja saja. Itu kan baik untukmu, baik untuk keuanganmu. Kenapa setiap kali menemukan kesulitan kamu kesal padaku. Dan apakah pantas jika kamu mengalami kegagalan kamu malah menyalahkanku.

Oohh.. Sakit sekali perasaanku ini. Padahal bukan aku yang  memaksamu untuk bekerja setengah mati untuk membiayai pernikahan kita.
Kalau memang tidak mampu ya sudah, untuk apa dipaksakan. Kalau memang ingin memperjuangkan menikahiku ya sudah, lakukanlah dengan ikhlas dan tulus. Kenapa sampai menyalahkan aku atas sikapku yang seolah tak mau membantu.

Hey, aku ini Wanita, Suku jawa. Gak ada sejarahnya wanita yang membiayai pernikahan. Toh kalau memang sudah mau dekat resepsi pernikahan, kekurangan biaya juga akan ditutupi oleh keluargaku. Kenapa kamu malah menuntutku begitu.

Dua tahun kita berpacaran, kamu bahkan tidak pernah membelikan aku baju. Masih pacaran saja sudah pelit begitu. Katanya, jika laki-laki mencintai seorang wanita, maka duniapun ingin dia berikan. Tapi boro-boro dunia, belikan aku sepotong gaun saja kamu keberatan. Dan kalau bicara untung rugi, aku sama sekali tidak pernah meraup keuntungan selama pacaran denganmu. Ya, meskipun tidak terlalu rugi juga sih.
Seperti take and give aja gitu. Kalau kamu memberi, maka kamu akan menerima. Jadi apapun yang kamu beri, selalu ada saatnya aku akan membalas pemberianmu. Seperti manusia yang tak mau rugi. Tak pernah memberikan apapun secara ikhlas tanpa balasan.

Fiuh,,, Capek sekali menjalani hubungan yang begini. Kayaknya lebaran tahun ini kami sudah tidak bersama lagi. Dan dengan begitu aku tidak perlu capek-capek datang kerumahmu dan bertemu keluargamu yang masih belum menerima kehadiranku.

Sudahlah, gak kerasa besok udah Hari raya lebaran kan.
Mohon maafku jika selama kita bersama, aku selalu tidak sesuai dengan harapanmu, sehingga membuatku kecewa berkali-kali.
Terimakasih juga untuk semua pengalaman yang pernah kau berikan, yang takkan mungkin terganti dengan kenangan yang sama di masa depan.

Memang kita sudah harusnya saling menjauh dan tanpa kabar begini dulu.
 Karna sedih, kamu tidak percaya pada langkahku selama ini. Selalu marah jika tidak memberimu kabar kurang dari satu hari. Dan juga semakin kepedean dengan Video Call whatsaap yang menampilkan senyum Gatalmu. Semakin lama, terlihat seperti manusia yang haus kasih sayang. Menjijikkan sekali.
Dan aku yang bukan siapa-siapa ini, tidak mau jadi ikut menjijikkannya dengan dirimu, yang seperti sukarela memberimu kasih sayang secara gratis.

Subhanallah…
Aku ingin bertaubat setelah bulan lebaran tahun ini berlalu.
Dengan tidak lagi berpacaran, dan berhenti berkomunikasi dengan laki-laki. Kecuali untuk urusan kerja.

Karna aku percaya, seburuk apapun masa laluku. Masa depanku masih Suci.
Entah itu kamu atau siapapun manusianya, tidak ada satupun yang berhak menghakimi masa laluku.
Yang mereka berhak hanya membantuku melewati masa sekarang menuju masa depan yang lebih baik.

Untuk saat ini, Biar aku punya waktu berharga sendiriku. Tanpa diganggu pikiran tentang sosokmu yang 'jahat' dan jauh dari kata sempurna. Juga tanpa gangguan dari panggilang telfon dan whatsaapmu.
Dan kamu juga punya waktu berharga sendirimu. Untuk merenungi kesalahanmu selama ini.
Dan melapangkan hatimu agar lebih ikhlas dan lembut menjalani kehidupan. Karna susah rasanya melembutkan hati manusia yang sejak lahir islam sampai usia 22tahun tidak pernah membaca ayat suci Al-qur'an.

Terakhir, aku berharap ketika kamu menemukan catatan ini kamu tidak memaki-maki diriku lagi. Bukalah pikiranmu untuk menerima kekesalanku ini.
Jika membenci, Bencilah diriku cukup dalam hatimu saja, jika sudah tidak tertahankan lagi, akhiri saja hidupku secepatnya.
Karna sungguh lelah begiku, mempertahankan cinta yang tak kuinginkan untuk berlanjut ini. Terlalu banyak luka, yang tidak akan terobati cukup dengan kata maaf  saja. Semua yang terlanjur terjadi jangan diungkit lagi. Cukup diingat saja sebagai kenangan.

Kenangan yang akan muncul, dikala rindu, kala sendiri...